Jumat, 21 Desember 2012

Belajar dari Kehidupan Orang Bali (1)

Bulan Oktober lalu, saya berkesempatan mengunjungi kembali destinasi wisata kebanggaan negeri ini. Bali, memang mempesona tidak saja dari kekayaan alam yang indah, namun juga budaya dan filosofi masyarakatnya yang patut dieksplorasi. Momen ini berkah bagi saya karena kebetulan saat itu kota tempat saya tinggal (Jambi, red) sedang dilanda bencana tahunan bernama Kabut Asap (salah satu dampak dari kebakaran hutan, red) sehingga kunjungan ke Bali dapat dijadikan sebagai self healing, menjauh dari cuaca yang tidak sehat.
Sesampai di Bali, saya langsung mencari taksi untuk mengantarkan saya ke Sanur, tempat saya melakukan pertemuan dengan para delegasi dari berbagai wilayah di Indonesia (ciee berasa mau Konferensi Tingkat Tinggi aja hehehe). Secara kebetulan saya juga membawa serta anak saya yang saat itu berusia 18 bulan bersama asisten saya. Ghavin (nama panggilan putra saya) memang selalu menjadi 'Bintang tamu' dalam setiap kunjungan kerja saya ke luar kota dikarenakan hingga saat ini dia masih menyusui, jadi ibarat kata "kemana pabriknya pergi, sang konsumen harus selalu ikut', hehehe, ini intermezzo saja.
Well, akhirnya kami sampai di dalam taksi dengan Sang Pengemudi Cerdas dan Ramah bernama Pak Wayan. Mengapa saya katakan cerdas? karena sepanjang perjalanan dari Bandara Ngurah Rai hingga sampai di Werdhapura, Sanur, saya seperti mendapat mata kuliah 2 sks dengan judul, Filosofi Kehidupan Orang Bali.
Pak Wayan menjelaskan kepada saya bagaimana Bali bisa menjadi negeri yang dikenal dunia, bagaimana asal muasal para investor asing jatuh hati dengan daerah ini. Bagaimana sejarah kehidupan Kerajaan Mataram Hindu sampai ke tanah Bali juga diuraikan dengan jelas oleh pak Wayan, sampai-sampai saya kehabisan pertanyaan karena informasi yang disampaikan sangat kompleks dan menambah khasanah pengetahuan saya saat itu juga. Terima kasih Tuhan sudah mempertemukan saya dengan orang ini (gumam saya dalam hati).
Ada yang mengusik hati saya saat saya menelusuri jalan-jalan di Denpasar saat itu, pembangunan properti lagi-lagi mengernyitkan dahi, Bali makin mengalami perubahan drastis begitu pengamatan sejak kunjungan terakhir saya tiga tahun lalu. Jalanan makin macet, gedung-gedung hotel makin bertambah, mudah-mudahan alam Bali tetap terlindungi dengan baik karena Bali memiliki wilayah konservasi di bagian barat dengan luasan Taman Nasional Bali Barat kurang lebih 19.000 Hektar, ditambah lagi wilayah konservasi lainnya ini sungguh melegakan. Orang Bali juga sangat menjunjung tinggi kecintaan terhadap alam (lingkungan hidup) seperti prinsip yang terdapat dalam Kitab Agama Hindu, Weda,
Sesampai di Sanur setelah melepas lelah saya kemudian langsung memutar arah ke timur menuju Pantai Sanur yang posisinya persis di Depan hotel. Ini adalah Kali pertama putra saya Ghavin bermain di Bibir pantai dimana sore itu air sedang beranjak surut. Di sepanjang pedestrian way pantai ini, wisatawan asing yang rata-rata para keluarga tampak asik bersepeda, sulit saya temukan wisatawan lokal disini ditambah lagi Cuaca yang sangat terik menjadikan pantai sebagai ruang favorit bagi para turis asing yang ingin berjemur (sunbathing).
Waktu makan malam pun tiba, hanya beberapa orang panitia, Ada saya Dan wakil Dari Papua yang menyantap hidangan malam itu, menunya sangat Indonesia. (Asisten saya bisa manyun kalo menunya ala western haha!)
Pertemuan Kali ini kami membahas tentang Urban Design yang mana pembagian Zonasi dibuat detail berikut zoning regulation-nya. Selain membahas aspek perancangan Kota Dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis, ada sesi menarik lain yakni tentang pedoman Rancang untuk jalur pejalan kaki. Hal ini memang memiliki urge nitas tinggi karena Kota-Kota di Indonesia belum ada yang memiliki jalur pejalan kaki yang Human friendly (ini menurut saya loh ya). Alasan saya pun sangat manusiawi sebetulnya, saya belum menemukan pedestrian way perkotaan yang sudah menyediakan akses untuk kaum difabel, Kebanyakan juga jalur pejalan kaki dipenuhi oleh pedagang kaki lima yang memang secara sosioekonomi juga butuh ruang.










***

Setelah beberapa hari melakukan pertemuan di Sanur, saya lalu memutuskan untuk extent dan tinggal di Tuban, dengan alasan sangat dekat dengan airport. Penjelajahan dimulai dengan tidak meninggalkan kuliner khas Bali, kami sempat diajak teman lama saya semasa SMP dan SMA, Ni Made Ayu Suni (Suni) yang asli Bali, untuk makan malam di sebuah restoran khas masakan lokal yang terletak di pusat Kota Denpasar. Lidah saya terhibur dengan hidangan Sate Cumi, Ayam Sisit dan Sayur Pakis bumbu Bali (silakan dibayangkan yaa... hehehe).





Day 1 

Keesokan harinya melanjutkan penelusuran tentang budaya Bali kami bertolak ke Ubud, siapa yang tidak mengenal Desa Seni bertaraf internasional ini, sampai-sampai Holywood pun jatuh hati menjadikannya sebagai tempat syuting untuk scene Love dalam film Eat, Pray, Love yang diperankan oleh Julia Roberts. Sesampai di pusat kota Ubud kami singgah terlebih dahulu ke Pasar Seni Ubud, karena Pasar termasuk salah satu spot menarik ketika kita ingin merekam jejak aktivitas masyarakat lokal. Ternyata pasar seni Ubud sedang dalam renovasi sehingga hiruk pikuk dan lokasi yang sekarang tidak seramai biasanya, hasrat saya ingin mencari makanan lokal pun kandas. Akhirnya kami hanya mampir sebentar membeli kerajinan anyaman lokal. Karena hari sudah siang maka penjelajahan di Ubud tidak terlalu lama ditambah lagi Ghavin mulai merasa gerah, akhirnya Gelato Oops dan Fish Spa pun dilewati. Ubud bukan hanya menjadi tempat belajar seni dan meditasi, melainkan juga merupakan tempat pilihan para penulis dalam melakukan pertemuan tahunannya, pada saat kunjungan kesana, sedang berlangsung Ubud Writers & Readers Festival 2012 dengan tema Bumi Manusia (This Earth of Mankind) karya emas Pramoedya Ananta Toer yang sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia (aah ingin sekali saya menghadiri festival ini). Saya sebetulnya kangen dengan daerah Campuhan, dulu waktu honeymoon saya dan suami sempet singgah di Museum Blanco. Namun karena ada wacana ke Bedugul, saya cukup puas dengan mampir di pusat desa Ubud saja.





***

Meninggalkan Desa Seni Ubud, kami meneruskan perjalanan dengan roda empat bersama pengemudi bernama Mas Komang,  saya ingin makan siang di pinggir sawah mas, ujar saya, mobil pun bergerak menuju daerah persawahan terasering yang cantik di Tegalalang, disini banyak sekali turis asing dari Jepang dan Timur Tengah sedang menikmati keelokan sawah sambil minum air kelapa muda. Segar yaa... Saya pun memilih menu khas Bali Ikan Tuna Sambal Matah atau dineri nama "Be Pasih" rasanya lumayan enak, yang membuat unik ya sambal matahnya memang merupakan sajian lokal. Ghavin sangat menikmati suasana saung di Kafe Teras Padi ini, dan tentunya mendapat teman baru dari Tokyo. Moshi-moshi.... :)





Usai makan siang kami kembali menuju arah pulang ke Tuban, namun karena hari menjelang sore jadi kami memutuskan untuk mampir ke Pantai Padang-Padang (hihihi lagi-lagi tempat syuting film Eat Pray Love, ingat scene terakhir si Elizabeth dengan kekasihnya?). sebelumnya setelah dari Ubud kami ingin sekali melihat Bali Safari Park karena Ghavin sangat menyukai dunia fauna tapi karena Ghavin masih lelap tertidur kami langsung merubah peta perjalanan supaya bisa menyaksikan sunset di Jimbaran sambil makan seafood tentunya :).

Suasana macet di Jalan Ngurah Rai By Pass membuat kami terjebak cukup lama di jalanan, sampai akhirnya masuk ke wilayah Pecatu Uluwatu melewati kampus Universitas Udayana dan akhirnya sampai juga di Pantai Padang-Padang, yang mana kondisinya hampir mirip dengan Pantai Dreamland, namun untuk menuju ke padang-padang ini anak tangga berbatu yang dituruni cukup banyak dan terjal (saya lupa menghitungnya), tidak ada Gondola seperti di Karma Kandara Resort. Alhasil saya ngos-ngosan (baca: rada gempor) menggendong Ghavin untuk turun ke pantai, tapi cukup puas meski tidak terlalu lama bermain di sini karena suasananya ramai sekali, sangat tidak private, mungkin gara-gara Julia Roberts syuting disini, jadinya pantai ini penuh dengan turis lokal dan asing yang datang berlibur untuk sekedar berfoto, bermain dan berjemur, tampak banyak juga batita yang sedang bermain pasir dan berenang. Tapi si kriwil Ghavin hanya beberapa saat saja mengambil gambar, saat hendak diletakkan dipasir dia berontak menolak dan langsung menunjukkan tanda-tanda cranky, Wheww!

Akhirnya dengan berat hati saya memutuskan untuk mengakhiri Padang-padang sampai disini, belum ekaplor pantainya tapi Ghavin udah rewel jadi memang harus mengalah. Ketika menaiki anak tangga ke atas saya berpapasan dengan penduduk lokal yang membawa tangkapan ikan (saya lupa ini ikan apa yang dibawa, mohon dimaklumi ilmu perikanan saya minim banget, taunya cuma Ikan Nila, Patin, Gurame, Lele ama Hiu hehehe).
Sebelum melanjutkan perjalanan ke Jimbaran, mas Komang bertanya apakah jadi mampir di Pura Uluwatu, karena saya geli dengan monyet-monyet usil yang hampir saja mau mengambil kamera poket saya, kita pun akhirnya urung ke Pura Uluwatu.










Mobil akhirnya kembali bergerak menelusuri Uluwatu, melewati GWK dan karena lokasi yang sangat dekat kami langsung sampai di Jimbaran tepat pukul 5 sore. sebelum masuk ke lokasi pantai di depan tampak Pura yang berlokasi di pinggir jalan sedang dipadati oleh umat Hindu yang mengenakan pakaian putih-putih, sedang ada upacara keagamaan tampaknya.
Akhirnya kami sampai di salah satu restoran seafood di Jimbaran dan kami pun langsung memesan beberapa menu seafood dan es kelapa muda ditambah lagi memang perut sudah nagih minta diisi ulang hehehe. Alhamdulillah kami dapat menikmati sunset di Jimbaran, mengabadikannya dalam kamera, beberapa restoran juga menyuguhkan tarian dan pertunjukan musik tradisional Bali menambah keindahan eksotisnya pantai Jimbaran. Kami secara tidak sengaja juga berkenalan dengan turis dari Jepang yang secara kebetulan tinggal di Osaka (karena punya pengalaman get lost di Osaka jadi
berasa ketemu sodara sendiri hahaha). Mereka gemes melihat Ghavin, "kawai desune" katanyaa ;) jadilah mereka meminta berfoto dengan Ghavin hehehe tapi untunglah mereka cukup fasih berbahasa inggris, pasalnya saya kurang lancar berbahasa jepang hanya tahu kalimat-kalimat standar hehehe, dulu waktu di Osaka kemana-mana bawa kamus saku Jepang yang dibekali sama JICA, pihak sponsor yang mengundang saya belajar singkat di sana, ah kok jadi curcol nih! :D

...Dan Penjelajahan hari ini berakhir tepat jam 7 WITA, kami tiba di Aston Inn Tuban yang tidak jauh dari Jimbaran (thanks buat Sahabat saya Mbak Annis - Delta Tour di Semarang atas bantuannya mendapatkan hotel ini), kami pun langsung beristirahat. Saya tentunya siap-siap menahan kantuk karena Ghavin kalo malam hari aktif sekali, dan saya takjub juga dengan kekuatan fisiknya yang nggak pake capek hehehe.
Terima kasih juga buat teman saya Suni yang sudah mempertemukan saya dengan pengemudi hari ini, meski orangnya sangat pendiam, tapi saya bersyukur hari ini mas Komang sudah membawa saya untuk singgah di Bali Bakery, roti Almond Choco nya enaaaak banget! Berkhayal nanti ada bakery selezat ini di Jambi... Oke Sampai ketemu besok yaa :)

Senin, 11 Januari 2010

Kekuatan Positif bagi Indonesia

***

Biasanya setelah sampai di kantor saya langsung berjalan menuju ruang kerja, namun pagi itu (sekitar satu bulan yang lalu) ketika saya melewati lobi kantor ada hal yang menarik mata saya, dan itu tertuju pada artikel sebuah Surat Kabar berjudul “China Hardware, India Software, Indonesia No-ware”…

Hmm…

Mungkin pernyataan di atas ada benarnya bahwa saat ini China sedang memacu kemampuannya dalam mengembangkan perangkat keras, India sedang fokus di sektor 'perangkat lunak', tetapi kenapa Indonesia justru dikatakan tidak jelas arahnya mau kemana.


Bukan kajian ekonomi industri yang ingin saya ulas di sini, melainkan tentang kekuatan sebuah pencitraan. Terinspirasi dari pencerahan atasan saya di kantor pada waktu yang bersamaan dengan prolog di atas, tentang pencitraan Presiden SBY dan RI yang makin menurun. Saya langsung menjelajah alam pikiran saya tentang betapa dahsyatnya kekuatan media dalam hal pencitraan produk atau orang atau objek pemberitaan. Tema yang dulu pernah saya tulis sebagai thesis ketika mengambil studi Manajemen, persisnya tentang Marketing Public Relations.


~


Belakangan ini dalam konstelasi nasional makin jarang tertangkap mata berita yang bernada positif, beberapa cenderung menyorot permasalahan negatif yang membuat dahi berkerut dan memberikan empati tersendiri bahwa betapa mirisnya kondisi bangsa ini.

Terlepas dari konspirasi apapun di bumi Indonesia tercinta ini, mengapa kita belum sepenuhnya memberikan dukungan positif terhadap negeri ini? Mengapa terkesan banyak hal-hal yang tidak benar yang telah terjadi meskipun mungkin pada kenyataannya itu terjadi, tetapi mengapa preferensi kita tidak diubah untuk membesarkan hati dan jiwa sebagai bangsa yang besar?

Kalimat "Indonesia No ware" yang mencitrakan Indonesia sebagai Negara yang kurang arah, sungguh merupakan ungkapan yang menyedihkan. Saya pikir kita sebagai intelektual muda penerus bangsa tidak rela mendiskreditkan Negara kita sendiri, meski tidak dipungkiri kadang terselip dalam obrolan atau diskusi baik berbicara mengenai kualitas pelayanan publik, atau diskusi ilmiah tentang perkembangan Riset Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, yang masih jauh tertinggal dari Negara-Negara Tetangga, dimana kita terkadang merendahkan bangsa sendiri dengan mengatakan :

“Biasalah orang Indonesia, tau sendiri ngga disiplin, ngga commit, tukang korup..." dan ungkapan lainnya yang tanpa disadari melemahkan citra bangsa sendiri.


Kita seringkali diberikan wejangan dan pencerahan untuk tetap berpikir positif atas apapun yang terjadi disekeliling kita, atas apapun yang diberikan Tuhan kepada bumi dan segala isinya. Mengapa kekuatan itu tidak kita berikan kepada bangsa kita sendiri?

Mulai saat ini, akan lebih baik bagi kita sebagai bangsa kembali bersatu dan bersinergi melalui kekuatan-kekuatan positif dan meninggalkan imej negatif yang sering ditancapkan untuk bangsa sendiri. Sudah cukup lama kita terlena dalam cerai berai yang berkepanjangan. Bersatu tidak hanya berhenti untuk saling mencela, mencemooh dan menyalahkan satu sama lain tapi juga mendorong pencitraan bangsa ini dengan menggunakan kekuatan publikasi yang positif dan menciptakan word of mouth yang baik untuk membangkitkan dan memberi keharuman nama bangsa di mata kita sendiri dan dalam pandangan dunia internasional.

Sikap ini tentunya semata-mata kita lakukan karena kita bangga menjadi orang Indonesia, dan memiliki keyakinan bahwa kita adalah bangsa yang besar dan bermartabat.


***


"Keep your thoughts positive because your thoughts become your words.

Keep your words positive because your words become your behavior.

Keep your behavior positive because your behavior becomes your habits.

Keep your habits positive because your habits become your values.

Keep your values positive because your values become your destiny"

~ Mahatma Gandhi


P.S. : Sebuah Opini

Sumber gambar - http://shannonstanley.files.wordpress.com

dan www.freefromtears.com

Rabu, 28 Oktober 2009

Ketagihan Membangun Mall = Dosa Besar


***

Ketika sedang menambah gizi untuk pengayaan otak kiri yang belakangan agak low battery, saya tergelitik untuk kemudian turut mengulas apa yang saya baca pada artikel ini (1). Ini adalah salah satu pengejawantahan saya atas kegelisahan di musikalitas puisi Aksara Tiga Dunia


Dalam kehidupan modern, mall merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat kota karena menjadi alternatif untuk ruang berinteraksi satu sama lain. Tak dipungkiri bahkan mall sudah seperti rumah kedua bagi penikmatnya, dikarenakan mall diciptakan sedemikian rupa bahkan bisa dibilang dibangun dengan penciptaan mutakhir demi memanjakan tetamunya.

Dahulu saya juga termasuk salah satu orang yang terpikat oleh kenyamanan sebuah mall dan betah berlama-lama berwisata di setiap sudutnya, karena ketika tinggal di ibukota hiruk pikuk lalu lintas yang tidak teratur dan macet menjadikan mall sebagai pelarian untuk menenangkan otak yang cukup representatif. Sampai pada akhirnya saya sadar bahwa pembangunan mall di ibukota yang kemudian diikuti kota besar lainnya adalah karena krisis identitas.

Ketika ada kesempatan untuk mengkomparasi mall-mall di Indonesia khususnya kota metropolitan dengan mall di Negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Australia dan Hongkong, saya mulai resah karena mall yang makin bertumbuh khususnya di Jakarta seolah menjadi prestige yang tak mau kalah dengan Ibukota Negara lainnya, tanpa lagi memikirkan fungsi keseimbangan ruang kota yang sesungguhnya. Bangunannya pun tak kalah megahnya dengan mall-mall di negara tetangga, yang pada kenyataannya memiliki pendapatan per kapita jauh di atas Indonesia.

Kenapa ini bisa terjadi hingga latah?

Jakarta semakin kejam dengan keberadaan ruang sosial dan ruang hijau yang sesungguhnya. Hampir semuanya nyaris disulap menjadi artifisial tanpa melihat fenomena kesenjangan ruang yang terjadi dengan kenyataan aktifitas perkotaan yang juga tidak proporsional.

Kehilangan identitas ini juga ditiru oleh kota yang dahulunya menjadi kebanggaan karena kerindangan dan keasrian panorama alamnya. Bandung, juga seakan menjadi latah dengan menjamurnya 2 (dua) mall besar yang sukses membuat kota ini semakin macet dan semrawut.
Ada apa dengan Jakarta dan juga Bandung, kenapa konsep pengembangan kota nya makin tidak jelas dan tidak proporsional ? Mengapa harus meniru Singapura dan Kuala Lumpur yang memang menargetkan pendapatan dari wisata belanjanya. Padahal ketika kita berkunjung ke sana, mereka begitu ngefans dengan pusat perbelanjaan grosir seperti Tanah Abang dan Mangga Dua. Ibukota seperti dikejar target karena setiap tahun ada saja kejutan mall0mall baru yang bermunculan dan segera launching, dimana isinya mengusung brand-brand internasional yang notabene hanya mampu dijangkau oleh segmen A+.

Menurut analisis Atmawidjaja, 2009, Jakarta telah memiliki mall sebanyak 38 tempat, Bandung 28 mall dan Surabaya 16 mall.
Dengan melihat jumlah ini, makin kritis saja kondisi kota metropolitan di Indonesia dan kapan saatnya mulai berniat membangun dengan prinsip keseimbangan ekonomi, sosial dan lingkungan.

"Keberadaan banyak mall merupakan ciri-ciri kota yang sakit, karena sebagai ruang publik ia tidak memenuhi tujuan sosial dan lingkungan" (2)
Pertanyaannya mau dibawa kemana konsep pengembangan kota-kota metropolitan di Indonesia? Berilah kesempatan kepada anak cucu kita kelak untuk menikmati ruang-ruang inklusif yang alami sebagai tempat mereka berinteraksi sosial sekaligus sebagai sarana bagi mereka untuk lebih mengenal dan peduli dengan sekitar.

P.S.

________________
(1), (2). Masihkah kota-kota Indonesia butuh Mall ?. Endra S. Atmawidjaja, MSc, DEA. (Mahasiswa S3 bidang Urbanisme di Universitas Lyon 2, Perancis. 2009.
*Sumber gambar: www.zerodegreesart.com

REALITA ITU MILIK KITA



***


Melancong ke negara lain khususnya tempat yang well established memang memiliki sensasi tersendiri bagi kita yang melakoninya. Semuanya memanjakan publik, mulai dari pilihan moda transportasi yang secara sistem terintegrasi, sudut-sudut nyaman di ruang kota, law enforcement yang berjalan sesuai koridornya, tombol-tombol otomatis yang membuat tertib lalu lintas, pedestrian way yang luas tanpa ada PKL (pedagang kaki lima), manajemen persampahan nomor satu yang mengusung konsep 3R (reuse, reduce, recycle), kualitas jalan yang tak diragukan. Semuanya aplikatif pas dengan teori-teori di buku-buku kuliah.



Tapi tetap saja, itu bukanlah sebuah kebanggaan. Karena itu hasil karya orang lain bukan kita.



It's not belong to us, but them...






Meski belum ada sistem transportasi yang terintegrasi (kalau pun nanti MRT sudah launching itu juga tidak semua orang bisa menikmati karena adanya di ibukota), meski acapkali macet dimana-mana karena jalan-jalan kota yang berlubang dan PKL yang menguasai pedestrian way hingga tumpah ruah mengambil badan jalan, sampah basah-kering campur aduk jadi satu bahkan menetap di sungai-sungai yang airnya digunakan untuk kebutuhan dasar masyarakat, peruntukkan taman kota dan daerah resapan air dijadikan mall, hotel, ruko-, tetap saja potret itulah tempat kita bernaung. Semua berperan membentuk realita itu terjadi.



Well, It's belong to us...






Kita boleh berkhayal memiliki fasilitas publik yang nyaman dan terjaga seperti mereka. Kita pun bisa demikian kalau kita mau, mau mengikuti aturan-aturan setelah itu benar-benar ada. Tidak disalahgunakan, tidak dilencengkan, tidak diabaikan.Ketertiban dan Kenyamanan itu bergantung pada moral dan etika. Mungkin di sinilah ikhwal (development behaviour) yang hilang dalam siklus pembangunan.


Bagaimana caranya mengevaluasi moral dan etika? Harus dikembalikan lagi kepada nurani masing-masing. Dan mungkin program pembangunan yang paling tepat saat ini adalah membangun moral bangsa yang beretika lewat kursus-kursus kecerdasan emosi, sosial dan lingkungan (tentunya spiritual adalah dasarnya). Tapi seberapa efektifkah itu dapat berjalan?




~




Ketika ada waktu luang untuk berbagi cerita dengan seorang teman yang sering mengembara berpindah-pindah negara, dan saat ini menetap di Jepang, saya bertanya, "Apa yang membuat kamu terkesan dengan orang Jepang dibanding orang Eropa?" Lalu dia menjawab: "Orang Jepang selalu mengucapkan Selamat datang dengan suara yang keras/semangat dan Terima Kasih berkali-kali ketika masuk dan keluar dari restoran tempat kita singgah. Mereka adalah orang-orang yang selalu bersyukur"




Dari sini kami mengambil kesimpulan, bahwa success story orang Jepang selain tingkat kedisiplinan dan profesionalisme yang tinggi, adalah moral yang terbenam dalam masing-masing individu untuk selalu mengucap syukur dan mengapresiasi orang lain.Sama halnya orang Amerika, yang selalu mengucap kata 'maaf', ketika mereka tak sengaja melakukan kesalahan atau mengirimkan email/surat ketika tidak bisa memenuhi permintaan orang lain.


Semuanya bermula dari hal-hal sederhana, tapi itu cerminan hati.




Mencermati realita di negeri ini mungkin lebih baik bagi kita untuk kembali mengenang semangat dan pengorbanan tokoh-tokoh sejarah di masa lalu. Salah satunya yang bisa membangkitkan semangat adalah tekad R.A.Kartini berikut:


"Aku yang tiada mempelajari sesuatupun, berani-beraninya hendak ceburkan diri ke gelanggang sastra! Tapi bagaimanapun, biar kau tertawakan aku, dan aku tahu kau tak berbuat begitu, gagasan ini tak akan kulepas dari genggamanku. Memang ini pekerjaan rumit; tapi barangsiapa tidak berani, dia tidak bakal menang; itulah semboyanku! Maju! Semua harus dilakukan dan dimulai dengan berani! Pemberani-pemberani memenangkan tiga perempat dunia!" (via Pramoedya Ananta Toer)




Jadi benar bahwa salah satu kunci keberhasilan negara terletak pada moral dan etika bangsanya.






***






"A town like a flower, or a tree, or an animal, should at each stage of its growth, possess unity, symmetry, completeness, and the effect of growth should never be to destroy that unity but to give it greater purpose" (Ebenezer Howard)






P.S.

Senin, 14 September 2009

Tentang Negeri Terindah

***

Siapa bilang negeri ini terpecah belah?
Siapa bilang negeri ini tidak aman?
Itu cuma gelas-gelas kosong yang didentingkan pujangga karbitan berulang-ulang

Merah Putih menghiasi rumah-rumah dan koridor jalan
Untuk kesekian kali hati terhenyuk melihat semaraknya bumi pertiwi
Negeri ini Indah mengapa harus menangis?
Negeri ini Damai mengapa harus bertikai?
Negeri ini Santun mengapa harus marah dan menoreh luka?
Negeri ini Pandai, lihatlah kreativitas para penghuninya
Negeri ini Bijak maka berdebatlah dengan kepala dingin

Desiran adrenalin memicu otak dan syaraf
Membuka mata dan telingaMenyeru hati untuk berbuat
Menitikkan butiran airmata sukacita

Bangsa yang besar harus berjiwa besar
Bangsa yang Kaya harus adil bijaksana
Bangsa yang Cerdas harus bersatu

"Merah Putih teruslah berkibar"

***

~PS, dari sudut ibukota untuk Indonesia Bersatu
#indonesiaunite#

ZONA NYAMAN : MUSUH BAGI PERUBAHAN ?



***

Menyimak yang disampaikan Menristek, Kusmayanto Kadiman, pada acara Talk to CEO Special Edition beberapa waktu lalu, yang seperti biasa dipandu oleh sang Pengusaha cerdas, Sandiaga Uno, ada hal menarik yakni ketika Bapak Menteri mengilustrasikan bahwa pada dasarnya manusia sulit untuk berubah*, karena sudah merasa nyaman dengan kondisi yang ada. Sebagai contoh, untuk mengubah rute jalan yang ditempuh menuju tempat kerja saja, kita sering merasa enggan merubah jalur dan cenderung tetap melewati rute jalan yang sama setiap hari. Ini adalah salah satu contoh sederhana bahwa orang cenderung sulit untuk berubah.

Hal yang sama juga pernah disampaikan oleh Pakar Manajemen, Rhenald Kasali, yang semakin giat menelurkan konsep-konsep tentang Perubahan (ChAnge!, Re-code Your Change DNA, dan Mutasi DNA Powerhouse).Orang cenderung mempertahankan diri berada dalam zona nyaman (comfort zone) dan takut untuk mengubah langkahnya, karena takut masuk ke dalam area yang tidak nyaman, tidak aman, tidak memberi kesenangan/kebahagiaan, menimbulkan kegelisahan, keraguan, kecemasan atau mungkin malah menjerumuskan ke kawah penderitaan.

Perubahan sesungguhnya membutuhkan pengorbanan bahkan bisa mengakibatkan penderitaan. Ini yang selalu ditakuti dan dihindari sehingga orang akan cepat mengunci rapat pintu rumahnya ketika telah berada dalam zona nyaman.Menurut Rhenald, seringkali perubahan baru disadari ketika berada dalam keadaan tidak berdaya (alias mau nggak mau harus berubah), kalau tidak organisasi akan melemah, penjualan menurun drastis, produk sudah uzur sehingga kehilangan pangsa pasar, cashflow pun menjadi negatif.
Padahal tanpa menunggu keadaan krisis, organisasi melemah atau terjadi degradasi kualitas produk, orang atau organisasi harusnya bisa terlebih dahulu mengambil langkah perubahan. Meminjam istilah pasar modal, seseorang yang takut berubah dan lebih suka berada dalam lingkaran aman dapat dikatakan sebagai risk adverse, sedangkan orang yang berpikir kita harus berubah untuk mewujudkan mimpi dan tidak puas berada dalam zona nyaman, dapat kita katakan sebagai risk taker.



Menganalogikan konsep perubahan dalam tatanan kehidupan manusia dan Tuhan, apa jadinya bila manusia tidak pernah tersesat dalam perjalanan hidupnya, akankah dia mau mengenal Tuhan lebih dekat ?, Akankah manusia sadar kalau dia hanyalah sebutir debu yang bisa ditiup angin? atau Akankah dia bisa berkarya, berinovasi tanpa sandungan, tanpa salah jalur? Bukankah dengan tersesat, pengalaman hidup akan makin 'kaya', dan bukankah dengan tersesat keran di otak kiri dan kanan akan terbuka, hingga punya kekuatan untuk mengalirkan energi-energi positif yang mampu menghasilkan kreatifitas? Kreatif dan Inovatif dalam konteks kehidupan mengandung makna yang universal, semuanya juga dapat digunakan untuk menyeimbangkan kehidupan dunia akhirat.

"Hidup artinya berubah, Berubah artinya menjadi Dewasa, yang artinya membentuk Diri Tiada Akhir" (Henry Bergson)

...Berhati-hatilah dengan zona nyaman, karena itu akan menyumbat keran otak, mengkungkung imajinasi, memberi rasa kantuk yang akut pada mata, mengunci jendela pendengaran dan membuat kedua tangan akan selalu tertutup...



------------------

*Arti kata dasar ubah (Kamus Bahasa Indonesia) :
ubah:, berubah: menjadi lain (berbeda) dari semula; bertukar (beralih, berganti) menjadi sesuatu yang lain; berganti (tentang arah)


***
~PS, sebuah opini


*) gambar diambil dari www.herd.typepad.com, sweetanniesjewelry.wordpress.com

Minggu, 13 September 2009

~ ENAM PULUH EMPAT TAHUN


Untuk Negeriku tetaplah tersenyum,
Karena apapun yang terjadi buatku Kaulah Juaranya!


Selasa, 18 Agustus 2009

***



Untuk sesosok raga, aku memang tak muda lagi
Enam Puluh Empat Tahun, Usia yang patut buatku untuk kembali bersemayam di bumi
Selaput otak telah penuh dengan cairan paradoks
Syarafnya pun mengalami penyempitan akibat terpenjara dalam ruang minim udara
Jantung kian melemah karena telah dicangkok menjadi tumpukan properti berteknologi mutakhir yang membuat kaki kanan tak tahu apa yang diperbuat kaki kiri
Mata yang rabunnya double degree makin rusak akibat sampah yang menggunung di setiap persimpangan aliran darah
Kulit wajah yang keriput makin kusam akibat mencerna olahan plastik yang dibumbui penyedap tipuan berbentuk polusi terbuat dari fosil leluhur

Yang paling fatal adalah sistem peredaran darah yang bekerja tidak sempurna lagi akibat sering mengkonsumsi racun berkadar tinggi yang sering disebut 'Kolusi, Korupsi dan Nepotisme'
Akankah setiap onggok raga yang ku punya akan sia-sia saja di penghujung usia?
Tentu TIDAK jawab roh yang bertengger di ragaku!
Walau raga itu telah porak porandaAku masih punya kepingan Harga Diri, Punya kekuatan Hati dan Akal positif yang bisa dipakai untuk melatih kembali syaraf-syaraf tubuh,
Menggali kekuatan untuk membangun kerjasama antara kaki kanan dan kaki kiri, Meminimalisir tingkat kerabunan mata dengan berlatih membaca situasi alam yang memang diciptakan untuk dipercantik lalu dinikmati secara bertanggungjawab

Di fase kepala enam, aku sedih teringat cucu-cucuku
Aku tak ingin mereka juga nyaris hancur dan tak berdaya seperti ragaku
Aku ingin mereka punya raga yang kuat yang mampu mengangkat derajat bangsa dan menggempur serangan kapitalis dan imperialis

Aku juga ingin ketika mereka pergi ke Gedung Pertunjukan bukan disuguhkan oleh Shakira, Avril Lavigne atau Beyoncè tapi oleh Lenong Bocah, Naga Bonar atau Merantau
Untuk itu, aku butuh banyak raga agar kembali bangkit!

Sama halnya aku juga butuh banyak raga untuk memapah peti jasadku nanti sebelum bersemayam di bumi.


***

~PS